Ecodrain

Go Green! The Most Cost Effective Ways to Live

PENGARUH PENETAPAN UMUR LAYAN BANGUNAN (Ly) DAN KALA ULANG (T) DALAM MANAJEMEN RESIKO PENGELOLAAN DRAINASE PERKOTAAN

ABSTRAK

Dalam pengelolaan drainase perkotaan, terdapat resiko dimana infrastruktur drainase yang dibangun ternyata tidak mampu menangani debit limpasan hujan (surface runoff) yang datang, sehingga menyebabkan genangan dan atau banjir di berbagai kawasan kota. Kemampuan sistem drainase kota dalam menangani debit limpasan yang terjadi adalah sangat terkait dengan umur layan bangunan drainase yang didisain. Prinsipnya propabilitas atau peluang dan resiko dari dari suatu debit banjir rencana berkaitan dengan umur layan bangunan dan kala ulang (T) yang direncanakan. Penetapan umur layan bangunan adalah terkait dengan target umur bangunan yang ditentukan, dalam hal ini terkait dengan peraturan bangunan. Sedangkan penetapan kala ulang (T) biasanya menggunakan standar dan kriteria perencanaan drainase, yang mengacu pada klasifikasi (peruntukan) bangunan dalam sistem drainase kota dan atau luasan layanan (catchment area) serta klasifikasi kota.

Dengan kondisi perubahan iklim global, curah hujan ekstrim yang sering terjadi di berbagai kota di Indonesia kurun waktu 10 tahun terakhir, penggunaan umur layan bangunan dan kala ulang sebagaimana yang menjadi kesepakatan selama ini perlu dikaji kembali, mengingat sudah tidak mampunya sistem drainase menampung debit limpasan tsb. Makalah ini dimaksudkan untuk menjadi masukan bagi berbagai pelaku drainase kota (stakeholder) dalam perencanaan dan pembangunan drainase kota agar dapat menyesuaikan peningkatan debit banjir dengan penggunaan angka kala ulang (T) dan umur bangunan sesuai karakteristik hujan kota, sehingga pada akhirnya dapat mengurangi resiko banjir.

 

A.          PENDAHULUAN

Kejadian banjir dan genangan yang terjadi di berbagai kota di Indonesia, selain disebabkan oleh masalah belum lengkapnya prasarana sarana drainase terbangun, masalah sampah dan sedimen, permukiman berada di wilayah dataran banjir (flood plain), perubahan tata guna lahan, juga disebabkan oleh rendahnya kemampuan drainase perkotaan dan kapasitas sarana serta prasa-rana pengendali banjir.

Kemampuan drainase dan kapa-sitas sarana dan prasarana drainase ditentukan oleh Qrencana (debit limpasan permukaan) yang direncana-kan untuk prasarana dan sarana drainase tersebut. Penetapan Qren-cana selain berdasarkan pertimbangan teknis juga memperhatikan pertimba-ngan-pertimbangan non teknis, termasuk kemampuan pembiayaan daerah. Kemampuan dan kapasitas drainase juga didisain berdasarkan resiko yang dapat ditanggung oleh sistem drainase kota tersebut.

Permasalahannya dan kenyataan di lapangan adalah banyak bangunan sarana dan prasarana drainase yang dibangun sesuai dengan umur rencana dan kala ulang yang sesuai standar dan kriteria perencanaan yang berlaku tetapi tetap saja banjir dan genangan terjadi. Sebagai contoh meluapnya Kali Sunter, Kali Jatikramat, Kali Buaran, Kali Bang Lio, dan banyak lagi lainnya di Jakarta padahal sudah didisain sesuai umur perencanaan standar 10 tahun. Bahkan Banjir Kanal Barat (West Canal) sendiri yang didisain dengan kala ulang (T) 100 tahun, pada kejadian banjir 2007 sudah hampir meluap. Memang benar ada pula pengaruh sedimen dan sampah yang mencapai 10-20% dari dasar saluran terhadap kapasitas saluran/kali, akan tetapi melihat besaran pengaruhnya terhadap dimensi saluran secara keseluruhan karena juga terdapat ambang batas (free board) sebagai angka aman, maka dimensi dan kapasitas saluran juga perlu menjadi pertimbangan yang dievaluasi.

Makalah ini akan membahas pengaruh penetapan Umur Layan Bangunan (Ly) dan Kala Ulang (T) dalam Manajemen Resiko Pengelolaan Drainase Perkotaan. Fokus makalah khususnya adalah untuk memberi pemahaman bagi pemerintah kota sebagai pengelola drainase kota (urban drainage) agar dapat memahami dan menyadari kemampuan dan kapasitas drainase kota yang dikembangkan, terkait dengan manajemen resiko pengelolalaan drainase. Sehingga dapat memahami kemampuan dan kapasitas drainase yang dibangun dengan segala konsekuensinya termasuk dalam memberi penjelasan secara terukur dan realistis terhadap berbagai pandangan publik yang sering menyalahkan ketidakmampuan manajemen drainase kota disatu sisi dan disisi lain penganggaran (pembiayaan) sektor drainase tetap menjadi anak tiri dari infrastruktur kota lainnya sekalipun kota tersebut berada pada dataran banjir dengan resiko banjir dan genangan sangat tinggi.

B.         LANDASAN TEORI

Seperti telah disebutkan diawal, resiko dan peluang terjadinya banjir maupun genangan terkait dengan debit rencana (Qp) yang akan digunakan dalam perencanaan sistem drainase kota. Pendekatan perhitungan debit banjir tersebut adalah menggunakan Modified Rational Method atau Rational Method yang dimodifikasi persamaannya, sebagai berikut: . Dimana intensitas hujan dihitung dengan menggunakan . R24 merupakan curah hujan harian maksimum tahunan untuk kala ulang t tahun. Sehingga Qp berbandung lurus dengan R (curah hujan), dimana semakin besar R (dalam hal ini T yang digunakan) maka semakin besar pula Qp, demikian pula pada komponen C maupun A. Konsekuensinya adalah semakin besar Qp untuk disain rencana akan berpengaruh pada dimensi bangunan drainase.

Gambar Landasan Teori

Kala ulang adalah waktu hipotetik dimana probabilitas kejadian debit atau hujan dengan besaran tertentu akan disamai atau dilampaui sekali dalam jangka waktu tersebut.

Debit banjir rencana adalah debit maksimum dari suatu sistim drainase yang didasarkan kala ulang tertentu yang dipakai dalam perencanaan.

Hubungan antara probabilitas atau peluang dan resiko dari suatu debit banjir rencana, yang berkaitan dengan umur layan bangunan didasarkan pada rumus seperti berikut:

r         =  1-(1-p)Ly

p        =  1/T

Keterangan:

T       =  Kala Ulang

Ly      =  Umur Layan Bangunan

r         =  Resiko Terjadinya Banjir

p        =  Probabilitas

Mengacu pada kriteria dan standar perencanaan yang tersedia, referensi kala ulang adalah beradasarkan tipologi kota dan luasan daerah tangkapan air atau DAS sebagaimana ditunjukan pada tabel 1. Dimana kala ulang yang digunakan tersebut dapat memberi manfaat reduksi peluang terjadinya banjir seperti ditunjukan pada tabel 2.

Tabel 1. Kala Ulang Berdasarkan Tipologi Kota

TIPOLOGI KOTA DAERAH TANGKAPAN AIR (Ha)
< 10 10 – 100 101 – 500 > 500
Kota Metropolitan 2 Th 2 – 5 Th 5 – 10 Th 10 – 25 Th
Kota Besar 2 Th 2 – 5 Th 2 – 5 Th 5 – 20 Th
Kota Sedang 2 Th 2 – 5 Th 2 – 5 Th 5 – 10 Th
Kota Kecil 2 Th 2   Th 2   Th 2 – 5 Th

Sumber: Tata Cara Penyusunan Rencana Induk Sistem Sistem Drainase Perkotaan, Dit. PLP, Ditjen Cipta Karya, 2011.

Tabel 2. Hubungan Antara Kala Ulang Dengan Faktor Reduksi (Yt)

KALA ULANG (TAHUN) FAKTOR REDUKSI (Yt)
2

5

10

25

50

100

0,3665

1,4999

2,2502

3,1985

3,9019

4,6001

Sumber:   “Standar SK SNI M-18-1989-F, Metode Perhitungan Debit Banjir”

C.         STUDI KASUS: PENGELOLAAN DRAINASE DAN BANJIR DI DKI JAKARTA

Dari studi terkait terdahulu, berdasarkan studi “Drainage Management For Jakarta: Strategic Action Program Development (DKI 3-9), menyebutkan 2 (dua) diantara berbagai sebab banjir dan genangan di Jakarta adalah:

  • Kapasitas saluran yang tidak cukup merupakan penyebab terjadinya banjir. Kemampuan daerah genangan untuk membuang air hujan berkurang karena beberapa sebab. Kapasitas yang tidak cukup dari saluran mikro/sub-makro disebabkan oleh saluran yang kurang dalam atau kurang lebar. Hal ini dapat diperbaiki dengan melapisi tepi saluran dengan bahan yang licin. Penyelidikan tentang upaya ini dan penerapannya pada salah satu kasus adalah bagian dari pekerjaan desain
  • Kapasitas jembatan, gorong-gorong atau bagian dari saluran mikro/sub-makro yang menyempit, berkurang sehingga menyebabkan terjadinya hambatan pada aliran yang lewat. Kapasitas pengangkutan pada saluran terhambat oleh jembatan yang kurang lebar, ruang bebas yang kurang tinggi atau kedua-duanya. Rehabilitasi jembatan merupakan bagian dari desain untuk menjamin aliran pada saluran dapat lewat tanpa hambatan.

Rekomendasi dari studi tersebut merekomendasikan referensi kala ulang dan freeboard dalam Pengelolaan Drainase dan Banjir di Jakarta seperti pada tabel 3. Dari rekomendasi tsb, keluar program pengembangan dan normalisasi berbagai bangunan drainase dan pengendalian banjir di DKI Jakarta.

Tabel 3. Referensi Kala Ulang dan Freeboard dalam Pengelolaan Drainase dan Banjir di Jakarta

 Picture1

Sumber: DRAINAGE MANAGEMENT FOR JAKARTA: STRATEGIC ACTION PROGRAM DEVELOPMENT (DKI 3-9), Western Java Environmental Management Project (WJEMP), IBRD Loan 4612-IND/IDA Credit 3519-IND.

Dari data yang dikumpulkan oleh penulis (Tabel 4), bila diperbandingkan antara debit rencana, kala ulang yang digunakan, resiko banjir, propabilitas meluap dibandingkan dengan debit aktual pada kejadian banjir tahun 1996 dan 2002, didapatkan data bahwa disain rencana sekalipun sudah kala ulang 100 tahunan (pada Banjir Kanal Barat) sudah tidak dapat lagi menampung debit aktual, pada kondisi ekstrim banjir 1996 dan 2002 dimana curah hujan waktu itu mencapai 250 mm selama lebih dari 3 jam.

Tabel 4. Evaluasi Resiko dan Propabilitas Meluap pada Beberapa Saluran di DKI Jakarta

Picture2

Data diatas menunjukan sekalipun sebagian besar saluran tersebut telah memenuhi kriteria (Tabel 5) sebagaimana direkomendasikan pada studi WJEMP (Tabel 3) akan tetapi dengan kondisi banjir 1996 dan 2002 menyebabkan kapasitas rencana dengan kala ulang standar telah terlampaui.

Tabel 5. Perbandingan Kondisi Perencanaan (Eksisting) dengan Rekomendasi WJEMP[1]

Tabel Perbandingan Kala Ulang Eksisting dgn WJEMP

Sumber:   Pengolahan Data, 2012.

Dari kajian propabilitas dan resiko banjir terlihat hubungan antara kala ulang/perioda ulang (T) dengan propabilitas saluran tersebut meluap dan resiko terjadinya banjir dan genangan di wilayah pelayanan/DAS (catchment area). Bila kala ulang digunakan semakin besar maka propabilitas saluran meluap makin kecil demikian pula resiko terjadinya banjir semakin mengecil. Sedangkan bila umur layanan makin lama, maka resiko terjadinya banjir dan genangan di wilayah pelayanan/DAS (catchment area) akan semakin besar.

D.         KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dari evaluasi perbandingan tabel 4 dan tabel 5, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Untuk mengurangi propabilitas saluran drainase dan atau pengendalian banjir meluap dan resiko terjadinya banjir dan genangan, maka perlu dipertimbangkan oleh perencana dan pelaku pengelolaan drainase perkotaan untuk memilih kala ulang yang lebih besar dari standar perencanaan, karena adanya perilaku hujan ekstrim (akibat climate change), selain pertimbangan pembiayaan/ keuangan untuk konstruksi.
  2. Standar dan kriteria perencanaan yang ada untuk berbagai klasifikasi saluran di Indonesia perlu dipertimbangkan untuk dinaikan. Mengingat adanya perilaku hujan ekstrim (akibat climate change) dan kebutuhan/tuntutan akan keamanan dari resiko banjir yang meningkat.

Rekomendasi dari kajian ini sebagai berikut:

  1. Perlunya review kembali referensi standar dan kriteria perencanaan untuk kala ulang (T) yang digunakan dalam penentuan Curah Hujan dan Intensitas Hujan dalam perhitungan Debit Banjir Rencana.
  2. Perlu studi lebih mendalam untuk kondisi kasus di kota lain di Indonesia.

E.          DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Drainage Management for Jakarta: Strategic Action Program Development (DKI 3-9), Western Java Environmental Management Project (WJEMP), IBRD Loan 4612-IND/IDA Credit 3519-IND, 2006.

Anonim, Tata Cara Penyusunan Rencana Induk Sistem Sistem Drainase Perkotaan, Dit. PLP, Ditjen Cipta Karya, 2011.

[1] DRAINAGE MANAGEMENT FOR JAKARTA: STRATEGIC ACTION PROGRAM DEVELOPMENT (DKI 3-9), Western Java Environmental Management Project (WJEMP), IBRD Loan 4612-IND/IDA Credit 3519-IND

*) Tugas perkuliahan Magister Teknik Sipil, UPI YAI Jakarta, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 13, 2015 by .
%d blogger menyukai ini: