Ecodrain

Go Green! The Most Cost Effective Ways to Live

Mengapa ecodrain?

Pengelolaan Drainase perkotaan dan perdesaan di Indonesia saat ini secara umum dapat dikatakan telah mengalami kegagalan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kejadian-kejadian yang melanda dihampir semua kota seperti kejadian banjir, genangan dan pencemaran air serta permasalahan ikutannya seperti kerusakan habitat perairan (terumbu karang, pantai dan sungai), berkembangnya penyakit yang berasal dari perairan (waterborne deases), kerugian ekonomi dan keuangan akibat banjir dan masalah kesehatan, dlsb menjadikan kegagalan pengelolaan Drainase menjadi permasalahan yang membutuhkan penyelesaian yang tidak dapat ditunda-tunda lagi.

Akumulasi antara dampak kesalahan dalam pengelolaan hujan dan kesadaran lingkungan tersebut memberikan inspirasi untuk mengembangkan model pengelolaan Drainase, yakni dengan pendekatan ecodrain. Pendekatan ini dapat disebut juga dengan pendekatan integralistik dengan implementasi berupa usaha untuk melakukan pengelolaan Drainase secara komprehensif dan terpadu serta memasukan faktor ekologi/lingkungan dalam setiap usaha pengelolaan Drainase.

Menurut Maryono (2001)[1] yang mengusulkan Konsep Eko-Drainase (Eco-Drainage Concept) yaitu, “Release of excess water to the rivers at an optimal time which doesn’t cause hygenic and flood problems”; Eko-Drainase diartikan suatu usaha membuang/mengalirkan air kelebihan ke sungai dengan waktu seoptimal mungkin sehingga tidak menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan banjir di sungai terkait (akibat kenaikan debit puncak dan pemendekan waktu mencapai debit puncak). Dari pengertian ini dapat diuraikankan ada 2 (dua) pendekatan yang digunakan dalam konsep eko-Drainase yakni pendekatan eko-hidraulik, yakni pengelolaan Drainase yang dilakukan dengan memperhatikan fungsi hidraulik dan fungsi ekologi, serta pendekatan kualitas air, yakni upaya meminimalkan dan atau meniadakan pencemaran air yang dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi manusia dan flora-fauna.

Konsep ecodrain merupakan salah satu unsur dari konsep pengelolaan hujan integratif (Integrated Stormwater Management). Pengelolaan secara integratif ini bukan hanya diartikan secara administratif dari hulu ke hilir, namun juga harus diartikan secara substantif menyeluruh menyangkut seluruh aspek yang berhubungan dengan Drainase, yang meliputi semua aspek; aspek teknis operasional pengelolaan Drainase, kelembagaan/institusi, keuangan/pembiayaan, peran masyarakat dan atau swasta dan hukum peraturan.


[1] Maryono, Agus Dr-Ing.Ir, Eko-Hidraulik Pembangunan Sungai : Menanggulangi Banjir dan Kerusakan Lingkungan Wilayah Sungai, Edisi ke-2, Penerbit, Magister Sistem Teknik Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2005. halaman  28.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 18, 2008 by and tagged .
%d blogger menyukai ini: